1
Hi, welcome to
Itna's Page!
1
1
About me(?)
1
Welcome to
Pageitna
1
Playlist! 🎧💿
1
Podcast
Songs
Always Trying My Best
Butterfly era is real—until it’s not.Kairo dan Nayesha pernah jadi definisi “gemas”: manis, intens, dan saling yakin. Tapi cinta yang nggak sembuh cuma berubah jadi toxic—capek, nyakitin, dan pelan-pelan kosong. They chose to let go. Or at least, they thought they did.Waktu berjalan. Kairo berubah, sedangkan Nayesha bertumbuh. Saat mereka dipertemukan lagi, perasaannya masih sama—tapi posisi hidupnya nggak lagi sejajar.“Buat bersanding sama kamu saja, rasanya aku harus naik seribu tangga biar setara. Jadi, jangan sama aku ya? You deserve better.”Masalahnya, cinta nggak selalu bisa nunggu.
Dan nggak semua orang sanggup menyetarakan diri. Because sometimes, love isn’t enough—timing, healing, and self-worth matter more.
Always Trying My Best
CHAPTER 1| Bahkan, Di Tanah Sekering Gurun Pun Dapat Menghidupkan Kaktus
Bogor tahun 2010 menyimpan banyak trauma untukku. Semua kenangan buruk di masa itu masih terekam jelas di kepalaku. Seperti apa mata Papa yang selalu pulang di sepertiga malam dalam keadaan mabuk, juga amarah Mama yang kerap kali meluap saat menghadapi amukan Papa yang tak kenal waktu.Oh, tidak cukup sampai di situ.Keesokan harinya pun, mereka masih melanjutkan perdebatan panjang semalam. Bahkan tanpa peduli posisi anak-anak yang hanya bisa berlindung di dalam almari usang, ketika piring dan gelas mulai melayang ke dinding.Aku masih ingat suara tangis Aa Moe saat mendekapku di sela-sela baju lusuh Mama yang menggantung di almari. Aku juga masih ingat getaran tubuhnya saat mencoba melindungiku dari tarikan kasar Papa, yang berujung lebam membiru di sekujur tubuhnya karena menjadi pelampiasan amarah Papa.Mungkin aku masih terlalu kecil untuk memahami situasi tersebut, namun anak usia tujuh tahun pun akan tahu jika bentakan-bentakan kasar dan pukulan-pukulan keras itu adalah sesuatu yang tidak seharusnya terjadi di dalam keluarga.Lalu setiap kali aku menangis, Mama selalu membawaku pergi dari rumah. Derasnya hujan, aroma tanah yang basah, juga suhu dingin yang menusuk tulang karena tipisnya baju yang kukenakan, menjadi saksi bisu perjuangan Mama yang terus berlari tak tentu arah.Sekali lagi, mungkin saat itu aku tidak tahu seperti apa situasinya. Hanya saja, Mama selalu berdiri di tengah jembatan dan melamun menatap genangan air di bawah sana.Bahkan ketika hujan lebat mengguyur pun, Mama selalu diam dan membiarkan setiap tetesnya menyelimuti kami.Aku juga ingat, di bawah lampu kuning jalanan saat itu Mama tersenyum padaku dengan mata memerah. Seolah sedang menyemangatiku, seolah sedang menenangkanku, seolah sedang mengatakan bahwa semuanya baik-baik saja.Padahal, mata sembab dengan noda biru seperti darah menggumpal di pelipis dan tubuh penuh lukanya, merupakan bukti bahwa Mama pun tidak yakin pada dirinya sendiri.“Kalau nanti kita jatuh, Naye tahan nafas bentar ... Bisa, kan?”Kalimat itu membuatku ikut menangis di tengah petir yang menyambar. Lantas, Mama pun mulai mendekapku kuat-kuat.“Maaf. Maafin Mama, Nayesha. Seharusnya kamu jangan jadi anak Mama,” katanya yang masih kuingat jelas sampai saat ini.Mama menciumku berkali-kali dan kalimat maafnya juga terus terlantun. Sampai akhirnya, Mama tidak bisa bersuara lagi karena terlalu sesak dengan tangisnya.
Setelah aku beranjak remaja, aku mulai menyadari jika saat itu Mama sangat ingin mengakhiri hidupnya.Namun, kehadiran Aa Moe yang baru berusia sebelas tahun berhasil meruntuhkan egonya. Di saat Mama berada di titik terendahnya, Aa Moe berlari menerjang badai sambil mendekap payung barbie milikku.Sesampainya di samping Mama yang malam itu masih menggendongku, Aa Moe menyodorkan payung yang terlipat asal-asalan dan menggandeng tangan Mama.“Jangan tinggalin Aamor sendirian sama Papa lagi ya, Ma.” Ucapan Aa Moe yang kuingat. “Aamor takut sama Papa.”Kalimat sederhana Aa Moe itu membuat isak tangis Mama kian menggebu. Setelah itu, Mama mulai menurunkanku dari gendongannya dan merengkuh kami ke dalam dekapannya sambil mengucapkan kata maaf tiada henti ... penuh sesal.Dua tahun setelah itu, Papa menghilang. Frekuensi kepulangannya semakin menipis dan tanpa kusadari figur Papa pun kosong dalam waktu yang lama. Entah sudah meninggal atau mungkin melarikan diri, aku tidak peduli. Kehidupan kami jauh lebih baik pasca kepergiannya.Hingga lima tahun kemudian, Mama dipertemukan dengan sosok yang menyempurnakan hidupnya.Ayah Roman.Dia Ayah tiri, tetapi selalu menyayangiku dan Aa Moe seperti darah dagingnya sendiri. Pekerja keras, sayang keluarga, pecinta hewan, tutur katanya lembut, selalu sabar menghadapi setiap amarah Mama, tetapi juga tegas dan mengayomi.Beliau adalah Roman Mahantara.
Sengaja aku perkenalkan pertama kali karena beliau adalah orang favoritku nomor satu.Alasannya?Sederhana saja, Ayah Roman berhasil menumbuhkan bunga di sela-sela retaknya kehidupan Mama. Bahkan, retakan-retakan kecil itu mungkin sekarang sudah menjadi taman bunga yang begitu luas dan indah seperti Keukenhof Garden.Bersama Ayah Roman, mata Mama tidak hanya digunakan untuk memproduksi air mata, tetapi juga untuk melihat hal-hal luar biasa di berbagai belahan dunia yang sebelumnya tidak pernah beliau bayangkan.Bersama Ayah Roman, bibir Mama juga lebih banyak tersenyum alih-alih terisak seperti saat bersama Papa.Dan bersama Ayah Roman, tubuh Mama selalu dimanjakan dan dirawat dengan baik. Bahkan, Ayah Roman selalu mengajak Mama untuk cek kesehatan setiap tahunnya.Beliau adalah kado terbaik yang dikirimkan Tuhan, setelah tangis berdarah-darah yang Mama lalui selama bertahun-tahun.Ayah Roman tahu film kesukaan Mama, tahu makanan favorit Mama, tahu jika Mama tidak suka hujan, bahkan hal-hal sesederhana seperti bungkus permen yang biasa aku dan Aa Moe buang di pot bunga kesayangan Mama pun tidak pernah luput dari penjagaannya.Ayah Roman sangat paham bagaimana cara memperlakukan seorang wanita, sangat mengerti bagaimana cara menjadi Ayah yang baik, dan sangat pandai bagaimana cara menjadi pemimpin keluarga yang saling mendukung dan penuh cinta di setiap detiknya.Beliau adalah sosok yang membuatku berpikir:“Ah, I need to find someone like him.”
Always Trying My Best
CHAPTER 2
“Dek, sayurnya jangan lupa dimakan. Mama kan masak ini buat kamu.” Mama memperingatiku untuk yang kedua kalinya, karena aku sering tidak mengindahkan permintaannya.Wanita cantik khas Jawa-Sunda yang sedang menyendok sayur di atas meja makan itu adalah Danisa Arabella, Mama terhebat di dunia yang aku miliki.Jangan berpikir beliau adalah orang favoritku nomor dua karena baru aku perkenalkan setelah Ayah.Buatku, Mama tetap menjadi orang favoritku nomor satu. Hanya saja, kategorinya berbeda dari Ayah. Hehee.“Mama! Nggak mau ih! Nggak enak!” rengekku ketika Mama menuangkan sayuran ke piringku.“Naye, kamu itu anemia, harus banyak makan sayur. Nanti kalau sakit lagi gimana? Mama nggak mau merawat kamu!” ancam Mama agar aku mau makan sayur.“Ayah aku kan Dokter, kalau sakit ya tinggal panggil Ayah lah.” Aku menjulurkan lidah, sedikit menyepelekan perhatian-perhatian sederhana dari Mama.Maaf, tapi aku benar-benar anti sayur.Kalau matcha, itu beda cerita lagi.Aku memindahkan sayur pemberian Mama ke piring Aa Moe. Hal itu membuat mata belo Aa Moe menyipit, tetapi dia tidak memprotes dan menerimanya begitu saja. Mungkin, karena sudah terbiasa dengan tingkah adiknya.Oh iya, cowok berambut ikal yang hidungnya menjulang kaya bule ini namanya Aamor Garcia. Kakak satu-satunya yang aku miliki. Pembawaannya tenang, penyabar, kalem, tapi terkadang selalu mengingatkanku pada Papa karena wajahnya sangat mirip. Beruntung, sifat buruknya tidak menurun.“Huh,” Aa Moe menghela napas.
Tak lama kemudian, dia berdiri untuk menahan rahangku dan mulai menyuapiku sayur masakan Mama.“Oabwangggk moonywettt!” jeritku.
Ralat. Aa Moe sama sekali tidak kalem, dia adalah abang paling menyebalkan sedunia. Mungkin, bibirnya memang kalem. Tetapi, aksinya jauh lebih mematikan.Atraksi Aa Moe membuat Ayah dan Mama tertawa. Sial, ini namanya KDKA alias Kekerasan Dalam Kakak Adik. Ini harusnya kita lapor ke kepolisian, atau lembaga perlindungan perempuan dan anak, atau call center SAPA 129 nggak sih?Aku menepuk-nepuk tangan berotot—hasil Aa Moe nge-GYM selama 4 tahun—itu sampai dia berhenti menyuapiku.“Balik ke Jakarta aja sana!” seruku kesal.“Bilik ki Jikirti iji sini!” Aa Moe mengejek.“Augh!” Aku mencakar udara ke arah wajah Aa Moe.“Sudah-sudah, dihabiskan dulu masakan Mama. Nanti kalau sudah selesai, bantu Mama beberes, baru dilanjut berantemnya.” Ayah menengahi, tapi rasanya seperti sedang mendukung Aa Moe.
Ini ceritanya lagi men support men, kah?Walaupun tidak terima, aku tetap tersenyum.“Siap Ayah.” Ucapku dengan nada suara seperti anak kecil.Entah mengapa, Ayah selalu berhasil membangunkan sisi manja dan inner child-ku.Mungkin, karena aku terbiasa dimanja?Atau lebih tepatnya, aku rindu peran ayah?“Liat, Ma. Dia kalau sama Ayah langsung kaya ager-ager.” Aa Moe memprotes, membuat perdebatan kami semakin sengit.Singkat cerita...Aku mau memperkenalkan diri dulu sebelum aku lupa.Namaku Naye, Nayesha Garcia. Garcia diambil dari nama belakang Papa.Walaupun aku sangat membencinya karena perlakuannya terhadap kami yang semena-mena dan sangat menyakitkan itu, semuanya sedikit termaafkan karena gen bulenya menurun padaku. Ya, walaupun aku tidak se-bule Aa Moe, tapi setidaknya aku punya hidung mancung dan alis tebal.Maaf, flexing dikit.Mungkin karena traumaku dan ketakutanku bertemu laki-laki seperti Papa dan keinginanku untuk mencari laki-laki seperti Ayah, membuatku kesulitan dalam bab percintaan.Pasalnya, selera cowokku menjadi melejit tanpa tahu diri. Ditambah dengan novel-novel dan film-film romansa yang membuatku semakin berimajinasi tentang ‘Cowok Fiksi Idaman’ membuatku semakin menyeleksi cowok-cowok di sekitarku.Padahal kan, mereka juga ditulis oleh cewek. Hal yang tampaknya cukup mustahil untuk ada wujudnya di bumi ini.Di tengah gempuran teman-temanku yang keluar setiap malam minggu atau memiliki agenda di hari-hari khusus seperti Hari Valentine, aku justru terjebak di kamar dengan segudang soal-soal dan materi.Pikirku...Mungkin kalau nggak beruntung di percintaan,aku beruntung di pendidikan.WRONG!Di pendidikan pun, ternyata aku kalah.Di usiaku yang ke 18 tahun, aku harus menerima penolakan dari kampus impianku: Universitas Gadjah Mada atau yang biasa orang-orang sebut UGM.Karena itu penolakan pertamaku dari satu-satunya kampus yang aku daftar, aku sampai mengurung diri di kamar selama satu minggu penuh. Ya habisnya, bisa-bisanya aku sepercaya-diri itu bakalan masuk UGM.Memang benar kata orang-orang, hal yang paling pandai mengecewakan adalah ekspektasi diri sendiri.Sampai akhirnya, aku memilih untuk gap year.Psikologi – UGM
Akan selalu aku usahakan sampai aku berhasil.Em, kalau ditanya: “Kenapa Psikologi?”Simpelnya saja, aku ingin membantu orang-orang seperti Mama dan mengurangi perilaku buruk seperti apa yang Papa lakukan pada Mama, aku, dan Aa Moe.Karena aku tidak suka belajar hukum dan setiap debat selalu menangis, aku memilih menjadi Psikolog untuk membantu banyak orang dari segi emosional.Maksudku, menjadi polisi, pengacara, jaksa, atau hakim seperti cita-cita Aa Moe sama sekali tidak pernah terlintas di pikiranku. Aku bukan tipikal orang yang senang berdebat, tidak tegas, tidak memiliki jiwa kepemimpinan, dan aku tidak yakin bisa membantu orang-orang seperti Mama dan Papa di luar sana dengan jalur hukum seperti Aa Moe.Karena itu, sejak aku masuk SMA, Psikologi sudah aku nobatkan menjadi jalan ninjaku.Lalu, mengapa harus UGM?Singkatnya saja, aku ingin tinggal di Jogja.Kata orang-orang, you know ... Sepertinya aku tidak perlu menjelaskan panjang lebar mengenai Jogja, kota itu sudah terpatri indah di dalam benak orang-orang.Sayangnya, tidak dengan penghuninya.Eh, bukan begitu maksudku. Orang Jogja ramah kok.Hanya saja, aku pernah mendengar kalau cowok Jogja itu suka ‘menyakiti’. Hahahaa, baiklah itu semua hanya mitos.Tapi, tujuanku ke Jogja itu untuk jatuh cinta pada kotanya, bukan pada orangnya.Mungkin.Di sela-sela gap year-ku, Ayah tidak pernah absen untuk memastikan aku belajar setiap hari. Katanya, kita harus tumbuh setiap hari meski hanya 1%. Setidaknya, harus lebih baik dari yang kemarin.
Karena kegigihan Ayah dan support dari Mama, akhirnya aku berhasil masuk UGM, tentu saja Prodi Psikologi.Semester pertama kuliah, aku melaluinya dengan penuh tangis. Selain karena anak semanja dan secengeng ini harus bertarung hidup sendiri di perantauan, juga karena sering dibentak Kakak Tingkat dan parahnya lagi nggak punya teman.Semester kedua kuliah, aku mulai mencintai Jogja dan akhirnya memiliki satu teman dekat. Fara namanya, R.R. Fara Anggreani. Dia cantik, wajahnya khas mbak-mbak Jogja banget. Di namanya saja ada RR-nya, Raden Rara, gelar kebangsawanan Jawa yang biasa digunakan untuk perempuan, kalau kata google.Dia tipe cewek pengguna bedak ivory, baju warna apa saja cocok di kulitnya, rambutnya lurus tanpa harus dicatok dan cukup hitam sampai terlihat silau ketika di bawah matahari.Bersama Fara, aku banyak mengunjungi tempat-tempat indah di Jogja. Segala pantai, tempat wisata, kafe hingga hidden gem pernah aku sambangi dalam kurun waktu kurang dari tiga bulan. Cewek cerewet ini juga yang membuatku semakin jatuh cinta dengan segala seluk beluk Daerah Istimewa Yogyakarta.Menjelang semester ketiga kuliah, aku sudah berani keluar sendiri. Mengerjakan tugas di kafe tanpa teman satu pun, sudah bukan menjadi hal yang menakutkan untukku.Lalu, saat itu lah aku bertemu dengan seseorang.Seseorang yang membuatku berpikir:“Maybe, he’s the one?”
Always Trying My Best
CHAPTER 3
Yogyakarta tahun 2024 menyimpan banyak kejutan untukku. Salah satunya, bertemu dengan manusia ajaib di kafe yang perlahan membuat hari-hariku mulai terasa lebih hidup.Akan sedikit kuceritakan tentang awal mula kami bertemu.Saat itu, aku sedang pusing menyusun penelitianku untuk studi kasus. Aku harus mendapatkan data, tetapi aku tidak punya teman untuk membantuku mengisi kuesioner yang sudah kususun di google form. Bahkan, sudah kusebar di sosial media pun tidak ada yang mengisi.Di saat-saat seperti ini lah aku ingin pindah profesi menjadi selebgram. Eh, selebgram itu juga termasuk profesi, kan? Menurutku, hal apa pun itu selagi menghasilkan uang akan selalu kusebut sebagai profesi.Aku menangkup wajah ke atas meja dengan kening menumpu pada telapak tangan. Sekelebat pikiran untuk memanipulasi data pun terlintas di kepala. Toh, mereka juga tidak akan memeriksa ini data sungguhan atau bukan, kan?Argh! Tapi masa gitu, Nay? Batinku memprotes.Kalau mengerjakan tugas saja manipulasi, besok waktu terjun ke masyarakat mau jadi apa?
Koruptor? Absolutely not!Tok! Tok!
Seseorang mengetuk meja dua kali, membuatku refleks mengangkat kepalaku.Meski posisi cowok itu berdiri dan sedikit membungkuk, aku harus mendongak karena postur tubuhnya yang tinggi. Terlebih lagi, posisiku masih membungkuk dengan dada menyandar pada meja.Kedua mata kami bertemu selama dua detik, lalu aku mulai merasakan sengatan aneh.Ini mustahil.Kami baru pertama kali bertemu, tetapi aku merasa cukup familier sekaligus juga asing.Apa ini tanda-tanda dia punya red string yang tersambung dengan benang milikku yang singkatnya saja disebut ... JODOH?What?Halu banget sih!“... nggak?”“Huh?” Aku terus bertengkar dengan isi kepala sendiri, sampai tidak mendengarkan.“Stop kontaknya boleh gantian nggak?” Dia kembali mengulang pertanyaannya.“Huh?” Aku menegakkan tubuhku. “Iya, boleh.”“Ini boleh gue lepas?” tanyanya lagi sambil menunjuk charger-ku yang masih menempel pada stop kontak.“Oh,” Aku melepas charger-ku.“Thanks ya.”Aku mengangguk sebagai respons alami.Kutatap meja sharing panjang yang berada di tengah ruangan ini. Bentuknya sangat panjang dengan sekat kayu dan stop kontak di tengah meja. Setidaknya, cukup untuk dua puluh orang dengan sepuluh bangku berhadapan yang masing-masing sudah dilengkap dengan stop kontak.Hanya ada dua belas orang yang duduk di sini, jadi masih banyak bangku dan stop kontak lain yang kosong. Tapi kenapa dia meminta stop kontak di mejaku?Cowok dengan alis tebal dan bulu mata lentik alami itu meletakkan doppio di atas meja yang berada di hadapanku. Dia menarik kursi dan duduk berhadapan denganku, lantas membuka macbook yang sudah tersambung dengan charger.Ini meja sharing, di mana banyak orang duduk berhadapan dan berdampingan. Tetapi, kenapa aku merasa kami sedang duduk berdua saja? Rasanya sangat dekat, padahal di tengah kami ada sekat kayu dengan stop kontak dan pot mini sebagai hiasan.Ah, kenapa aku tidak bisa berhenti menatapnya? Aku mencoba fokus menatap layar laptopku, tetapi parasnya yang cukup unreal selalu sukses menyita atensiku.“Ekhem,” Dia berdeham.Bahkan, dari dehamannya saja terdengar cakep banget.Astaga! Kenapa aku jadi salah tingkah sendiri? Nayesha! Sadar! Aku meneguk matcha latte beberapa kali untuk meredam ke-salting-anku.Baru kali ini aku salting deketan sama cowok.Aku dapat mendengar ketikan keyboard-nya yang sangat cepat, juga wajah sempurnanya yang sedikit biru karena pancaran cahaya dari layar macbook.Di kacamatanya terlihat deretan coding yang memantul tidak terlalu jelas. Seperti sedang melakukan pemrograman?Entah lah, aku tidak terlalu pandai akan hal itu.Pada detik kesepuluh aku mengamatinya, suara ketikan tadi berhenti. Cowok dengan comma hair itu bersuara. “Lo belum punya pacar, kan? Kalau belum, besok jalan sama gue ya?”Apa dia bilang? Aku yang sedang menyeruput matcha latte-ku sampai hampir tersedak dibuatnya.Kepalanya terangkat menatap wajahku yang hampir sejajar, meski sebetulnya masih tinggian dia banget. Mataku juga terbelalak lebar saat arah pandang kami saling mengunci.Cowok yang masih belum kutahu namanya itu tersenyum.Smirk. Tapi, manis. Manis banget.“W-wa-what? I’m not sure—”
“I’m just messing with you,” Dia meluruskan, tersenyum lagi.Suaranya juga berat-berat adem candu gitu.Ih, kan! Aku jadi nggak bisa fokus.Lagian, siapa juga yang bikin candaan dengan ekspresi seserius dan seganteng itu?“Lo kan Anak Psikologi, masa bedain mana yang serius sama becanda aja nggak bisa?” sambungnya.“Ya kan masih di tahap belajar, lo pikir semua orang yang baru belajar itu langsung bisa jadi expert-nya?” Aku mendadak tercengang. “Eh, tau dari mana kalau gue Anak Psikologi?”Dia menunjuk buku-buku tebal di samping laptopku, memang benar itu buku-buku materi kuliahku.“Dengan lo duduk di sini sama tumpukan buku tebel,”—Dia menggerakkan tangan seperti sedang scan wajahnya sendiri—“Dan ekspresi lemes kaya gitu aja udah ngasih tau ke semua orang kalau lo Anak Psikologi.”“Ch, lo yang terlalu observasi kali.”“Mungkin.”Dia tersenyum. Gila!Dia tersenyum lagi dan kali ini lebih lebar dari sebelumnya.“Lo punya aura yang menarik soalnya,” imbuhnya.Kok tiba-tiba perut aku geli ya?Padahal nggak ada kupu-kupunya, tapi rasanya kaya ada yang melayang-layang di sana.Tiba-tiba, mood-ku jadi bagus gitu.
Bibir aku juga senyum terus, sampai harus aku tahan-tahan biar nggak malu karena terlalu kentara.Ini gejala apa ya?Gejala love at first sight, kah?Aku akui, dari look awal, dari sikapnya, dari caranya bicara, suaranya, caranya berpakaian, caranya menatap, smirk-nya, dan pembawaannya itu sudah tipe aku banget.Bahkan parfumnya pun langsung cocok di aku.Ini bisa langsung jadi punyaku aja nggak, sih?“Bau-bau predator!” Aku berusaha bersikap normal sambil berpura-pura mengetik sesuatu di laptopku.Biar kelihatan sibuk saja gitu.Dia tertawa. “Kok predator? Trauma lo apa deh?”“Trauma dijadiin bahan gabut doang,” jawabku asal. “Atau, obat move on? Atau parahnya lagi, jadi badut, peran pengganti.”Dia tertawa lagi, tertawa pelan.Candu.Padahal dia cuma tertawa, tapi perutku gonjang-ganjing.“Berdasarkan pengalaman?” tanyanya.“Berdasarkan pengalaman ... Temen,” jawabku.Cowok dengan kemeja hitam yang tiga kancing atasnya tidak dikaitkan itu menggeleng, dia kembali fokus dengan macbook.Hening.Tidak ada percakapan lagi di antara kami.Aku memang tidak pandai berkenalan. Setiap bertemu dengan orang baru, aku selalu menjadi pihak yang harus ditanya terlebih dahulu.Bukan sombong, tidak mau bertanya, atau hal lainnya. Hanya saja, aku tidak tahu harus membuka topik yang seperti apa. Aku takut akan pandangan orang baru padaku, aku takut bertanya akan hal-hal yang membuat lawan bicaraku tidak nyaman, dan aku takut mereka berpikiran yang tidak-tidak tentangku.Katanya first impressions itu penting sekali, bukan? Dan first impression kali ini, aku ingin melakukannya sebaik mungkin.Selama beberapa menit, kami hanya sibuk dengan kegiatan masing-masing. Aku mulai penasaran akan banyak hal tentang cowok di depanku, tetapi aku tidak berani bertanya.“Anak UGM, ya?” Dia kembali membuka pertanyaan di sela-sela kesibukannya.“Huh? Iya,” balasku sedikit kikuk. “Kok tau lagi?”“Diliat dari mukanya, kaya muka-muka cewek pinter.”Oh my God! First impressions cowok ini tuh selain ganteng, wangi, suaranya candu, dan tipe-tipe cowok yang dari bisepnya saja seolah sedang memberitahu bahwa dia rajin ke GYM itu, ternyata jago nge-flirting juga.“Lo sendiri gimana?” Aku balik bertanya.“Anak IT,” jawabnya sambil dijeda. “UGM juga, tapi dulu.”“Kok dulu? Maksudnya udah lulus ya?”“Berhenti di semester lima.”“Loh, kenapa?”“Bosen aja.”“Emang boleh bosen terus berhenti gitu aja?”“Boleh kalau gue.”Aku hanya memutar bola mata, merasa jawabannya sedikit terdengar tidak serius. Lagi-lagi, aku mencoba menyibukkan diri. Aku pura-pura mengetik sesuatu di laptop.Padahal isi ketikannya; orang gila, PD max, tapi ganteng, tapi lucu, tipeku, bener-bener tipeku, nggak boong, ah gemes.Aku tahu, aku tidak biasanya se-kepo ini pada seseorang dan tidak pernah seberani ini untuk bertanya. Tapi untuk kasus kali ini, aku tiba-tiba mendapat keberanian entah dari mana. Mungkin ini interpretasi dorongan di dalam diriku yang ingin mengenalnya lebih jauh?“Gue boleh tahu nggak, kenapa berhenti? Sayang banget itu, masuk Teknik Informatika UGM kan juga nggak gampang.”“Gampang kalau gue.”Ini cowok tingkat kepercayaan-dirinya tinggi banget, melebihi Burj Khalifa.Aku mengangguk, tidak tahu harus merespons apa. Sambil menunjuk cowok itu dengan semua jari tanganku seperti sedang menyodorkan nampan, aku berkata, “Suka-suka Kakaknya aja.”“Kai! Kairo, nama gue.” Dia memperkenalkan diri.“Oh, Kairo? Kalau gitu, gue Mesir.”
Jawabanku membuat kami saling tatap dan mulai tertawa.Padahal tidak ada yang lucu, tapi kami tertawa.Apa ini tandanya kami punya tingkat frekuensi yang sama?Cowok yang mengaku sebagai pemilik nama Kairo itu berdeham, lantas memajukan posisi duduknya sehingga lebih dekat denganku. Dua centimeter, mungkin?Tidak hanya itu, dia bahkan menopang dagunya di tangan kanan yang terkepal, seraya menatapku lebih intens lagi seolah kami hendak membicarakan hal yang cukup serius.“Oke, Mesir. Kenapa lo di sini sendirian?”“Nay,” Masih dengan sisa tawa yang tadi, aku meralat. “Nayesha, nama gue.”“Ck,” Kairo berdecak kecewa. Duduknya kembali seperti semula. “Kirain beneran Mesir, padahal udah merasa berjodoh.”“Skill flirting lo tinggi juga ya.”“Padahal gue lagi serius, nggak flirting.”Obrolan kami semakin dinamis, tatapan matanya pun selalu mengarah padaku, seolah sedang tertarik mendengarkan setiap kalimat yang akan aku ucapkan. “Nama lo, beneran Kairo?”“Perlu kasih liat SIM A?”Dia lagi flexing kalau dia punya mobil, kah?“Boleh,” jawabku kemudian.Cowok yang mengaku bernama Kairo itu mengeluarkan SIM A-nya, tertulis Den Kairo Y. di sana.“Y-nya apa?” tanyaku refleks.“Yours.”Sumpah! Ini orang flirting skill-nya sudah level glorious mythic deh kayanya, mana mulus banget lagi.
Ponselku yang berada di samping laptop sisi kiri menyala cukup lama, terlihat panggilan telepon dari Fara.Saat kuangkat, Fara langsung mematikannya. Cewek itu seperti sedang memberi sinyal agar aku membuka pesannya, dan benar saja, 20 pesan dari Fara masuk tanpa notifikasi karena ponselku dalam mode DnD alias Do Not Disturb.DnD itu mode yang biasanya harus kunyalakan agar aku bisa fokus mengerjakan tugas. Tapi sayangnya, aku jadi tidak mendengar notifikasi reminders jika hari ini aku punya janji dengan Fara. Parahnya lagi, ada cowok pengganggu itu.Aku langsung membereskan laptop dan buku-bukuku ke dalam totebag hitam dengan bag-charm ribbon grey.“Udah mau cabut?” tanya Kairo.“Iya, lupa ada janji sama temen.”“Cowok?”“Cewek.”“Kalau gitu, gue boleh punya nomor lo?”“Buat apa?”“Kali aja butuh bimbingan psikologi.”Gerakanku yang sedang mencari kunci motor di tasku pun terhenti. “Em, nomor tuh terlalu privacy.”“Kalau akun Instagram?”“Nggak punya.”“Bohong, jaman sekarang nggak ada orang yang nggak punya sosial media.”“Em,” Aku berdiri dan menenteng tasku di pundak kiri. “Gue nggak percaya sama orang yang gue temui di online.”“Kita kan ketemu secara offline,” Kairo memprotes, dia mendongak menatapku.“Nanti, nanti aja. Kalau kita ketemu tiga kali secara kebetulan, kita tukeran sosmed.”“At least gimme hint, when, where, and how?”“Iya kalau dikasih tahu itu namanya bukan kebetulan, tapi janjian secara disengaja lah.” Aku menyanggah.“Okay,” Kairo mengalah. “Have a good day, Little N.”Baru kali ini ada orang yang pertama kali kenalan, tapi langsung memberi julukan.Little N.Lucu juga.Aku tersenyum kecil, kemudian keluar dari kafe.Tidak mau berbohong, tapi ada sebagian besar di dalam diriku yang menginginkan pertemuan kedua kami secara kebetulan seperti hari itu.Selama dua puluh tahun hidup, dia adalah cowok pertama yang membuatku merasakan butterfly era.Meski hanya dengan pertemuan sesingkat itu.Saat aku bertemu Fara di tempat hangout yang kami janjikan pun, aku mulai menyesali sikap sok jual mahalku.Apa seharusnya, aku kasih akun Instagram-ku ya?Apa seharusnya, kita tukeran nomor telepon ya?
Always Trying My Best
CHAPTER 4
Pertemuan keduaku dengan Kairo terasa sangat alami dan tidak disangka-sangka. Kamu bisa menebaknya?Ya, di acara Walking Tour yang diadakan oleh jaghana.tour.Se-random itu masa? Jogja ternyata sesempit itu ya?Setelah pertemuan pertama kami di Warkop Naik Kelas, aku berkali-kali pergi ke sana lagi. Bahkan, di hari yang sama dan di jam yang sama pula. Tetapi, tidak pernah kutemui Den Kairo yang saat itu.Pada awalnya, aku pikir mungkin dia adalah kado terbaik yang Tuhan kirimkan seperti Ayah Roman untuk Mama. Lalu ketika aku sudah menyerah dan berhenti berpikir demikian, seorang Den Kairo itu justru muncul kembali dan membangunkan semua asumsiku yang sudah pupus.Lagi-lagi, kalimat yang sama kembali muncul;“Maybe, he’s the one?”Entah aku yang terlalu hopeless romance atau bagaimana, tetapi keberadaan Kairo selalu mampu membuatku merasa berbeda.Aku mengikuti tour ini dengan niat me-refresh otakku yang burnout, atas saran dari Fara. Kemarin aku sempat mengadu padanya jika aku pusing mengerjakan tugas studi kasusku, lalu ia menyuruhku berjalan-jalan keliling Jogja.Masalahnya, Fara sedang banyak acara di rumahnya sehingga tidak bisa menemaniku. Karena bosan bepergian sendiri, akhirnya aku memberanikan diri untuk mengikuti tour ini. Siapa tahu, aku bisa mendapat teman baru atau malah mendapat banyak data yang kuperlukan untuk tugasku.Tetapi, aku malah menemukan Kairo di tengah kerumunan orang-orang asing. Kairo yang bukan Ibu Kota atau Kota Terbesar di Mesir, melainkan Den Kairo, si cowok misterius yang aku temui beberapa minggu yang lalu.Dia banyak dikelilingi orang-orang, menjadi pencerita utama di tengah mereka, juga terlihat paling alami seolah sudah terbiasa dikerumuni banyak orang.Dia terlihat seperti tipe pemimpin yang setiap katanya akan selalu didengarkan oleh semua orang, wibawanya terasa sangat kuat, ditambah outfit casual yang terlihat rapi di tubuhnya.Dia seperti orang yang mau pakai tshirt bolong-bolong dan kotor pun, akan terlihat mahal dan berkelas jika melekat di tubuhnya. Bahkan, sesederhana polo shirt putih dan celana bahan hitam saja terlihat classy banget.Di tengah kesibukan Kairo yang sedang berbincang dengan orang lain, arah matanya sempat tertuju padaku. Detik itu juga, aku langsung memalingkan pandanganku ke sembarang arah.Kok, aku jadi merasa seperti stalker yang tertangkap basah?Jadwal gathering kami pukul sembilan pagi, acara utamanya adalah ke Prawirotaman dengan sub-judul tour:“Mengapa Prawirotaman disebut sebagai Kampung Turis?”Kami akan mengunjungi tempat produksi batik, tempat-tempat bersejarah di sana, juga mengakses private hidden art gallery yang belum pernah aku jamah bersama Fara.Sebelum tour kami dimulai, Kairo mendatangiku.“Ekhem,” Dia berdeham setelah sampai di sampingku.“Oh,” Aku pura-pura baru melihatnya. “Kenapa, Kak? Mau konsultasi terkait mental health ya?”Dia menjulurkan lidah singkat untuk membasahi bibir plumpy-nya. “Panggil Kairo aja.”“Baik, Bapak Den Kairo Y. mau konsultasi apa ya?” Aku masih memainkan peran.“Yours. Den Kairo Yours. Kan udah gue kasih tau, Bu Psikolog Nayesha, lupa ya?”“Cringe tau!” Aku memukul dada Kairo.Demi apa, itu adalah gerakan refleks yang selalu aku lakukan saat menemukan hal-hal yang lucu. Aku menahan senyum dengan menggigit bibir bawahku, seraya memalingkan wajahku ke sembarang arah.Aku merasa hilang kendali.
Ini cringe, aku tahu ini adalah hal-hal receh yang seharusnya tidak membuatku tertawa. Tapi, seorang Den Kairo berhasil membuat hal-hal sekecil ini pantas menjadi alasanku tertawa.Kairo sedikit membungkuk dan mendekat ke telingaku. “Gue kasih tau aja, yang ini beneran kebetulan,” bisiknya.Aku belum sempat membalasnya, percakapan kami terinterupsi dengan penyelenggara acara yang meminta kami semua berkumpul karena walking tour akan segera dimulai.Mereka memberi kami arahan, hal-hal yang boleh dan tidak boleh kami lakukan saat acara berlangsung, juga menerangkan sedikit-demi sedikit mengenai tour kami.Mataku hilang fokus, Den Kairo berhasil menyita segalanya.Kamu tahu? Di saat seseorang tidak melihat dan memperhatikan informan, ada kemungkinan besar seseorang itu tidak mendengarkan apa yang pemberi informasi katakan.Aku, sedang dalam mode ini.Perasaanku tiba-tiba terasa bahagia dan rumit secara bersamaan. Acara yang sebelumnya aku pikir akan membosankan, kini terasa sangat menyenangkan. Parahnya lagi, aku selalu memperhatikannya dan tidak pernah membiarkan Kairo hilang dari radarku.Sebagai calon Psikolog—jika Tuhan mengizinkan—aku sangat tahu bahwa aku ini sedang jatuh cinta.Tetapi, apakah memang bisa secepat itu?Antara aku yang terlalu mudah untuk jatuh cinta.Atau seorang Den Kairo yang terlalu mudah membuat seseorang jatuh cinta? Tidak ada yang tahu.Untungnya, outfit yang aku pilih hari ini tidak terlalu berlebihan. Rok putih sepanjang betis cukup membuatku leluasa berjalan mengelilingi area Pawirotaman, sekaligus juga tetap memperlihatkan sisi femininku. Helena crop top berwarna pink yang aku kenakan juga cukup melindungi tubuhku dari teriknya matahari pukul 10.00 pagi.Setelah mengunjungi Sentra Batik Prawirotaman, kami berlanjut untuk berjalan-jalan mengelilingi tempat-tempat bersejarah di sekitar sana sebelum jam ishoma atau jam istirahat, salat, makan.Menurutku, suasana di Prawirotaman itu unik dan menarik. Di sini banyak sekali makanan-makanan lokal dan western. Seolah memadukan Budaya Jawa dan Budaya Barat. Tidak heran kalau banyak turis yang gemar singgah ke sini.Singkat cerita, kami mengunjungi berbagai bangunan bersejarah seperti rumah-rumah Belanda peninggalan masa penjajahan yang masih dirawat dengan baik hingga saat ini. Melewati beberapa kafe, toko aksesoris dan barang antik, artshop, toko buku, restoran, hingga bar. Juga melihat rumah tradisional Jawa seperti Pendopo Ngadiswaran dan masih banyak lainnya.“Ini namanya Pendopo Ngadiswaran,” Suara Kairo yang ternyata berdiri di belakangku dan cukup dekat di telingaku itu membuatku refleks menoleh. “Ini dulu rumah masa kecilnya Sultan Hamengkubuwono VII.”Oh, look at him! Selain ganteng dan semuanya hampir perfect, dia juga berwawasan luas yang membuat value-nya semakin tinggi di mataku. “Kok tahu?” tanyaku.
“Em, selain gue pribumi, gue juga rajin baca google.”Pupus sudah ekspektasiku.Baiklah, kalau dia sesempurna itu, maka bukan manusia namanya. Aku tersenyum mendengar jawaban Kairo yang lagi-lagi nyeleneh. “Gue nggak pernah se-nggapapa ini loh, dibecandain sama orang berkali-kali.”“Ya udah, gue seriusin aja gimana? Mau nggak?”“Ngaco.”Kairo selalu membuatku speechless dengan jawaban-jawaban yang terdengar seperti asal bunyi, namun memiliki makna yang melekat di benakku.Sejak itu, hampir setiap detiknya kami selalu bersama. Kairo selalu berjalan di sampingku dan mengajakku mengobrolkan hal-hal yang kami lihat di sepanjang perjalanan kami menyusuri Prawirotaman.“Kenapa dinamain Prawirotaman?” tanyaku.“Karena dulu ini tanah punya Prawirotomo.”“Yang bener aja, Kairo. Gue trust issues deh, lo suka asbun.”“Serius, Prawirotomo itu salah satu bangsawan keraton yang dikasih hadiah sepetak tanah sama Keraton Yogyakarta. Tanah itu terus berkembang sampai sekarang dan dikenal jadi Prawirotaman ini.”Aku mengangguk tanpa merespons sepatah kata apa pun, karena tampaknya Kairo masih ingin menjelaskan banyak hal.“Kalau kata Nenek gue, tempat ini tuh banyak sejarahnya.” Benar saja, Kairo mulai menjelaskan secara perlahan. “Waktu masa perjuangan Kemerdekaan Indonesia aja, Prawirotaman pernah jadi salah satu markas perjuangan. Makanya, dari lokasi, bangunan, dan suasananya aja udah khas banget. Dan setelah Indonesia merdeka, tempat ini mulai jadi pusat industri batik yang dikelola sama keluarga Prawirotomo. Dari situ, lama-kelamaan peminat batik mulai banyak sampai jadi komoditas dagang utama di daerah ini. Tapi, katanya waktu tahun 70-an usaha batiknya mulai turun. Jadi, para keturunan Prawirotomo banting setir ke jasa penginapan. Nah, dimulai dari sini nih. Yang nginep kan bukan cuma orang Indonesia aja, tapi yang dari luar negeri juga banyak. Apalagi nuansa Internasionalnya kental banget, makanya banyak bule yang dateng ke sini. Lo liat kan tadi? Banyak restoran western di sini. Tapi ada satu hal yang paling penting dan bikin gue salut banget adalah di sini tetep ada perpaduan budaya Jawanya. Ibaratnya kaya, mau sekeras apa lo berusaha jadi orang lain, tapi lo tetep inget sama jati diri lo.”Cerita panjang Kairo akhirnya selesai, tetapi aku masih tidak berhenti memandanginya dengan kagum. Karena cara Kairo bercerita sangat menunjukkan bahwa dia menyukai tempat ini, dia bahkan masih tersenyum sambil memandangi kawasan ini.“Kenapa liatinnya gitu?” Kairo menangkapku yang tak berhenti memandanginya. “Bosenin ya?”Aku menggeleng. “Gue orangnya lebih pendiem dan nggak asik, jadi kalau ketemu orang yang banyak ngomong kayak lo, gue seneng banget. Ceritain lagi dong, seru dengerin lo cerita.”Sudut bibir kanan Kairo terangkat, dia tersenyum miring. Kami masih berjalan bersama, mengikuti rute para wisatawan lain. Sesekali, posisi kami terlalu dekat sampai punggung tangan kami bersinggungan.
Rasanya seperti ingin aku genggam saja, boleh nggak ya?“Oh iya, kenapa Keraton Yogyakarta kasih hadiah tanah ke Prawirotomo?” tanyaku penasaran.“Em, mungkin karena udah berjasa kali ya?”Kami saling tatap. Selama beberapa detik melihat kedua bola mata cokelat Kairo, aku menemukan tekat ingin bercerita di sana. Aku tersenyum, seolah ‘Ini yang kutunggu-tunggu’.“Jaman dulu tuh, orang yang punya peran penting sama masyarakat selalu dimuliakan sama Keraton Yogyakarta. Contohnya aja nenek gue, walaupun dia sekolahnya di sekolah rakyat, tapi dia bisa mengenyam pendidikan D2 sampai jadi guru, dan dia memang dapet banyak privilege. Kaya, gaji besar, terus dikasih tanah juga sama Keraton Yogyakarta. Banyak lah.”“Oh ya? Keren banget nenek lo.” Aku semakin dibuat kagum berkali-kali, tidak bisa kuhitung jumlah pastinya. “Kapan-kapan boleh ketemu?”“Boleh,” Kairo nyengir. “Tapi di makam.”“Eh,” Aku membekap bibirku sendiri.Obrolan random kami perlahan-lahan mulai terekam kuat di kepalaku, seolah ini semua akan menjadi kenangan yang kelak membuatku tersenyum saat aku mengingatnya lagi.Tengah hari, di saat matahari sedang terik-teriknya. Kami makan di Warung Lawas sesuai pilihan mayoritas wisatawan.Aku duduk bersama Kairo dan dua orang asing lainnya.“Mau foto dulu?” Kairo menata meja sebagus mungkin sampai terlihat aesthetic.Kok dia sepengertian itu?“Sini gue fotoin,” Kairo mengangkat ponselnya, dia menyuruhku berfoto karena katanya cewek-cewek suka foto-foto sebelum makan.Sebenarnya ini hal yang sepele. Tapi, kok seperhatian itu?Karena terlalu malu, aku tidak leluasa berfoto. Sebelumnya, Kairo meminta nomorku untuk mengirim foto, tapi aku menyarankan memakai AirDrop saja.Apa yang tadi itu modus? Karena ingin meminta nomorku, jadi dia pura-pura memotretku agar bisa ... you know ... like: “Mana nomor WA-nya, biar gue kirim fotonya.”
Karena sudah selesai lebih dulu, Kairo izin keluar untuk merokok.Ya, aku akui cowok-cowok ganteng memang tidak luput dari merokok.Tapi, entah kenapa kalau Kairo yang merokok itu rasanya berbeda. Dia seperti tahu bagaimana adab merokok yang baik, memastikan tidak ada orang lain yang menghirup asapnya, lalu membuang abu rokoknya di wadah plastik bekas minum yang akhirnya dia buang ke tempat sampah.
Bahkan ketika aku keluar untuk menemuinya pun, dia langsung mengibas-ibaskan tangannya ke baju untuk memastikan tidak ada bau rokok yang menempel di sana.“Sorry ya, bau rokok.” Kairo masih sempat meminta maaf.“Iya, nggak apa-apa.”“Udah selesai makannya?”Aku mengangguk seperti anak kecil sebagai jawaban.Setelah selesai makan siang, semua wisatawan diizinkan untuk bebas ke mana saja selama satu jam penuh, entah untuk salat, istirahat, atau mengunjungi tempat-tempat lain sesuai minat mereka. Sebelum akhirnya, kami berkumpul lagi di depan Warung Lawas dan melanjutkan tour kami ke art gallery.Aku menghadap Kairo untuk berpamitan. “Gue mau cari masjid dulu ya, mau salat.”“Sekalian aja, gue juga mau salat.” Kairo berjalan mendahuluiku, sepertinya dia sudah tahu letak masjid di sini.Oh, God! Ternyata seiman juga.
Ini kaya lagi dikode Tuhan kalau dia jodohku nggak sih?Aku tidak tahu Kairo dibesarkan dengan cara seperti apa, sehingga dia tumbuh menjadi pribadi yang baik. Dia berhasil membuatku kagum berulang kali, apalagi ketika dia menjadi Imam di antara belasan Jamaah.Setelah satu jam berlalu, kami mengunjungi art gallery. Di sana, kami berfoto bersama karena dipaksa oleh juru kamera dari penyelenggara tour.Maklum, pertemuan kedua, masih kaku dan malu-malu.Eh, tapi sepertinya hanya aku yang malu-malu. Kairo sama sekali tidak terlihat canggung, dia seperti sudah terbiasa bertemu dengan orang baru.Antara memang sudah cakap berkenalan dengan cewek, atau memang sifatnya yang extrovert.Tapi, aku harap dia memang extrovert saja.Sorenya, kami berpencar dari wisatawan. Kairo mengajakku makan es krim di Bambino Gelato, menghirup aroma kue terenak yang pernah kucium di ViaVia Bakery, kemudian menyusuri rute menuju tempat parkir.Rasanya, Jogja semakin indah ya.
Bukan hanya karena warna jingga kemerahan yang menjulang di langit, atau lampu-lampu kuning jalanan yang terasa hangat, melainkan karena aku bersama Den Kairo.Aku belum pernah merasa sebahagia ini berjalan dalam waktu yang lama karena notabenenya aku ini adalah cewek malas gerak yang jalan seratus meter saja sudah mengeluh.Sesampainya di tempat mobil Kairo terparkir, aku buru-buru mencari gocar untuk pulang. Namun, sebelum aku membuka aplikasi hijau itu, tangan Kairo sudah lebih dulu menutup layar ponselku.“Gue anterin pulang aja ya? Boleh?” tawarnya.“Nggak,” Tolakku cepat.“Why? Harus ada kebetulan ketiga, keempat, kelima, keenam, dan seterusnya dulu, kah?” protesnya.“Nganterin pulang itu privacy banget, nanti lo jadi tau gue tinggal di mana.”“Ya malah bagus kan, kalau mau main tinggal jemput.”“Nanti kalau ternyata lo perampok, penculik, mafia, stalker, pecandu narkoba, dan predator cabul gimana? Nggak bisa kabur ke mana-mana dong gue.”Kairo malah tertawa setelah mendengar ucapanku barusan. “Imajinasi lo beneran segila itu?” Dia masih tertawa.Sumpah, tawanya saja terdengar elegan dan tipe-tipe cowok classy banget. Dia, aroma parfumnya, suaranya, tingkahnya, dan tawanya benar-benar cocok di aku.Kairo mengacak poniku lembut. “Hish, gemesin banget.”Sial, ini dada aku nggak bisa berhenti dag-dig-dug.“Okay kalau nggak mau, gue anterin sampai gang aja gimana?” Kairo masih memaksa. “Kan, gue tetep nggak tahu kosan lo yang mana.”“Nggak!” Aku masih teguh pendirian.“Okay, okay.” Kairo mengangkat tangan, tanda menyerah. “Kalau gitu, izinin gue buat nemenin lo nunggu.”Aku pun membuka aplikasi hijau demi mencari gocar. Sayangnya, mungkin karena hari menjelang magrib, jadi tidak ada yang mau menerima. Kairo juga berulang kali menawari tumpangan, tetapi aku tetap kukuh tidak mau.Kakiku mulai terasa pegal karena bergerak tanpa henti sejak pagi. Sesekali aku membungkuk untuk memijat betisku.“Tuh, lonya aja udah capek gitu dan gocar-nya masih nggak ada yang mau nerima. Gue anterin aja ya?” tawar Kairo.Akhirnya, karena merasa tidak enak pada Kairo yang bersikukuh menemaniku menunggu dan tidak mau meninggalkanku sendirian di sini, aku pun mengiyakan tawarannya.Lagi pula, nggak ada salahnya juga kan membiarkan Kairo mengantarku pulang?Walaupun, sebenarnya ke rumah Fara.
Always Trying My Best
CHAPTER 5
Kairo membuka kunci mobil Hyundai Santa Fe berwarna putih, lantas membukakan pintu untukku. Jujur, ini pertama kalinya aku masuk ke mobil cowok selain Ayah, Aa Moe, dan gocar. Mobilnya cukup besar dan bersih, ada sunroof-nya juga.Tidak mau membuat Kairo menunggu, aku pun segera duduk di kursi penumpang. Setelah itu, Kairo duduk di kursi pengemudi. Lagu Always milik Bon Jovi sudah otomatis terputar, tampaknya Kairo suka lagu itu.Tak berselang lama, kami melaju ke jalanan setelah Kairo memastikan seatbelt-ku terpasang rapi. Di sepanjang perjalanan, aku hanya mengarahkan jalan ke rumah Fara yang berada di Jakal KM 9.Pikirku, di pertemuan kedua ini aku masih belum tahu Kairo itu orang yang seperti apa. Jadi, tidak ada salahnya untuk berhati-hati. Iya, kan?Kairo memarkirkan mobilnya di depan gerbang rumah Fara, dia sempat melihat-lihat rumah Fara dan rumah-rumah di sekitarnya. “Lo beneran ngekos di sini?”Aku menggeleng. “Enggak, ini rumah temen gue.”“Fuck!” decak Kairo. “Hati-hati banget ya jadi cewek.”“Iya lah, gue kan anak perantauan yang di sini sendiri, harus bisa jaga diri dong.”Kairo mengangguk. “Good job, Little N.”Aku menjulurkan lidah, seolah argumenku menang kali ini. “Makasih ya, udah dianterin pulang.” Aku hendak membuka pintu mobil, tetapi Kairo menahan tanganku.“Nay, bentar—”“Hah?” Tepat saat aku menoleh ke arah Kairo, sebuah kecupan lembut mendarat di bibirku.What? What is this? Kita baru bertemu untuk yang kedua kalinya, tetapi dia sudah berani menciumku? Bahkan di bibir?Aku refleks mendorong dada Kairo agar menjauh dari tubuhku. Aku terbelalak lebar, jelas saja, ini ciuman pertamaku setelah dua puluh tahun lamanya aku menghirup udara dunia.“So-sorry, gue nggak sengaja. Lo juga kenapa noleh?”“Lo-lo ma-manggil gue,” Aku semakin gugup.“Gue mau minta lo turunnya bentar, itu ada pagar pendek.” Kairo memajukan mobilnya. “Takutnya terlalu mepet, nanti lo kesusahan turunnya.”“O-oh,” Pikiranku mendadak kosong. Di saat-saat seperti ini, aku tidak tahu harus bereaksi seperti apa. Yang kurasakan hanyalah debaran hebat di dada yang sulit kukendalikan.Beberapa saat kemudian, Kairo kembali mendekatkan tubuhnya ke arahku, sementara aku refleks mundur. Mataku terpejam erat dengan tangan terkepal menyilang di depan dada. Satu detik, dua detik, aku dapat merasakan hembusan napas Kairo di bibirku. Lalu ketika aku membuka mata, jarak bibir kami hanya setipis kertas.Selanjutnya, bibir Kairo bergerak, membuat tubuhku refleks menegang. Aku pikir, dia akan menciumku lagi. Namun, ternyata bibirnya mendekat ke telingaku.“Besok gue ke Estuary, jam 5 sore.”“Terus?”Kairo membukakan seatbelt yang sebelumnya menjaga tubuhku. “Kasih tau aja. Siapa tau, lo juga mau ke sana.”“Ngapain gue ke sana?”“Hangout, ngopi,” Kairo membukakan pintu untukku, tapi dari dalam sehingga tubuhnya nyaris menempel di dadaku. “Ketemu gue, whatever, lo bisa lakuin apa aja sesuka lo.”Kedekatan kami yang nyaris bersentuhan itu membuat desiran di dadaku semakin menggebu, tatapan Kairo juga tidak lepas mengarah padaku, apalagi senyumnya yang candu.Di saat itu lah, ketukan kaca pintu mobil mengejutkanku.Aku menoleh seratus delapan puluh derajat ke jendela. Wajah Fara terpampang, cewek itu menilik ke dalam mobil dengan tangan yang menutup sisi kanan dan kiri wajahnya.“Gue turun ya,” pamitku.Aku membuka pintu mobil yang membuat Fara mundur.“Itu siapa?” tanya Fara.“Nggak tau, kenalan random aja!” Aku membalikkan tubuh Fara dan mendorongnya sehingga kami menjauh dari mobil Kairo.Aku tidak mau memperkenalkan Kairo pada Fara karena aku masih belum yakin pada cowok itu. Sayangnya, kelakuan seorang Den Kairo selalu di luar prediksi. Dia malah membuka kaca mobil dan melambaikan tangan padaku.
“Gue balik ya, Little N.” Kairo berpamitan.“Hell ya, Little N?” Fara nyengir sambil ikut melambaikan tangan sampai Kairo berlalu dari depan rumah Fara.“Udah, Far. Udah!” Aku menurunkan tangan Fara secara paksa, walaupun susah.“Ganteng banget, cok!” seru Fara dengan logat Jawa yang cukup kental.“Apaan sih!” Aku membekap bibir Fara.Kairo yang dikatain ganteng, tapi kenapa aku yang cengar-cengir ya? Aku tidak bisa berhenti senyum saat kami memasuki rumah Fara sampai aku meletakkan barang-barangku di ranjang kamar Fara.“Itu kenal dari tour?” Fara mengambil boneka beruang besar berwarna cokelat, lalu tiarap di kasur. Dia mulai menerka-nerka. “Apa jangan-jangan cowok kafe waktu itu?”Malam itu, Fara terus mendesakku untuk menceritakan tentang Kairo dan bagaimana kegiatan tour-ku.
Karena aku tahu Fara adalah orang yang gigih saat meminta seseorang bercerita, maka aku mulai menceritakan semuanya tanpa terlewat sedikit pun.Kecuali, kejadian singkat di mobil malam itu.
Ketika dia menyentuh bibirku tanpa aba-aba, meski tanpa disengaja.Ketika tatapan misteriusnya menghunus dan mulai meninggalkan banyak pertanyaan tak terjawab di kepala.Ketika senyumnya dengan liar menjalar ke seluruh ingatanku.Apa semua itu adalah sinyal ketertarikan?Sebelum tidur, aku kembali melihat-lihat fotoku, hasil jepretan Kairo.Kenapa debaran di dadaku selalu tidak mau berhenti jika aku mengingat tentangnya?Aku meraba bibirku sendiri, teringat sentuhan singkatnya.“Nay!” panggil Fara.Aku terperanjat. “APA?”“Nggak usah teriak juga kalik!” Fara mematikan lampu kamar setelah menyalakan lampu tidur. “Besok, lo beneran mau ke Estuary?”“Enggak lah!” Aku berbalik memunggungi Fara. “Ngapain juga gue ke sana.”[.]Estuary, jam 5 sore, dan hujan. Tiga hal yang mendominasi soreku hari ini. Aku duduk di lantai dua, persisnya di dekat dinding kaca, di sudut meja panjang yang menghadap ke luar jendela, dan mengarah ke lantai seberang yang berjarak.Dari sini, aku bisa melihat orang-orang yang sedang merokok di area seberang karena di sana tidak tertutup dinding seperti ruangan yang saat ini sedang kutempati.Saat pandanganku turun, aku dapat melihat tempat duduk di lantai bawah, ada beberapa orang yang sedang membuat konten video dengan berbagai macam properti di sana. Lalu bergeser sedikit, aku dapat melihat tempat duduk outdoor yang kini basah karena terguyur hujan lebat.Saat pandanganku naik lagi, aku dapat melihat jembatan dengan batas berwarna hijau kuning khas Jogja. Banyak pengendara berlalu lalang di sana, aku juga melewati jalan itu.Gedung Apartemen Taman Melati Yogyakarta juga terlihat jelas dari sini. Dan ketika aku menoleh ke kanan, aku dapat melihat gedung Fakultas Teknik UGM, juga pepohonan yang bergoyang terhantam hujan angin.Aku menghentikan putaran film di iPad dan melihat jam di sudut kanan atas, pukul 06.57 sore.Scam, pembohongan, dan tidak bisa dipercaya!Sampai sekarang pun tidak ada tanda-tanda Den Kairo.Aku tidak tahu apa yang sedang aku lakukan di sini, ini adalah kali pertamaku kemari.Kafe Estuary memiliki bangunan yang cukup luas dan sering digunakan untuk study-room oleh mahasiswa, bahkan ada ruang private untuk meeting, juga banyak bangku outdoor yang nyaman untuk tempat hangout atau hanya sekedar bergosip dan merokok bersama teman-teman.Ucapan Kairo kemarin mengaung di kepalaku, bisa-bisanya aku semudah itu termakan rayuannya?Kenapa juga aku datang kemari?Ingin bertemu Kairo?Lalu, setelah itu apa?Bodoh, Nay! Kamu bodoh sekali!Aku melepas AirPods, suara orang-orang mengobrol yang ada di ruangan ini mulai mendominasi, tidak jelas dan berisik. Seharusnya aku diam saja di kosan, mungkin aku bisa menonton film dengan nyaman, tiduran, dan selimutan.Tidak ada kegiatan, teman, maupun Kairo. Sebaiknya aku pulang, hujan juga sudah reda. Cewek mageran sepertiku ini tidak perlu hujan-hujanan hanya karena malas mengeluarkan jas hujan dari jok motor vespa abu bekas pakai Aa Moe.Tepat saat aku berdiri, aku melihat Kairo berjalan ke bangku outdoor di bawah sana. Ada tas gitar yang bertengger di bahunya, sedikit basah seperti baru kehujanan.Aku tidak mengerti, ini sihir atau apa, tetapi suasanaku yang sebelumnya badmood menjadi goodmood dalam waktu yang cukup singkat. Bahkan, waktu dua jam yang terbuang sia-sia hanya untuk menunggunya di sini pun mulai terlupakan.Hal anehnya lagi adalah aku kembali duduk di tempat semula, mengeluarkan iPad-ku dan menyalakan random movie.Sesekali kuintai Kairo yang duduk di bawah sana, setelah meminta waiter menyeka bangku-bangku yang basah. Dia mengeluarkan gitarnya dan mulai mengatur nada.Kairo tidak sendiri, setidaknya ada 9 sampai 12 orang yang ikut duduk mengelilinginya.Selama aku mengenal Kairo, aku tidak pernah melihat Kairo sendirian, kecuali saat di mobil. Dia seolah memiliki magnet yang dapat menarik orang-orang di sekitarnya.Waktu berlalu lebih dari dua puluh menit sampai kedua netra cokelat terang Kairo itu menemukanku. Karena salah tingkah, aku sampai menyeruput minumanku yang sudah habis.Kedua mata kami terus mengunci satu sama lain, sampai Kairo menyipit dan sedikit memiringkan kepalanya. Lantas, dia mulai melambaikan tangannya setelah melafalkan namaku.Kairo menunjukku, seolah sedang memberi isyarat bahwa dia akan naik untuk menemuiku. Senyumnya melebar, membuatku ikut tersenyum tanpa kusadari. Lalu aku sadar dan senyumku memudar. Tetapi, pada akhirnya aku tersenyum lagi.Kairo memberikan gitarnya ke salah satu teman yang duduk di sampingnya, lalu mulai berjalan memasuki bangunan.Kenapa tiba-tiba debaran di dadaku melonjak drastis?Apa memang seperti ini rasanya jatuh cinta?Hanya dengan melihatnya saja, aku sudah kegirangan.Apalagi jika bertemu?It seems really weird, but in a good way.Aku refleks menyingkirkan tiga gelas dengan minuman yang sudah habis dari mejaku, tidak mau dia tahu bahwa aku menunggunya selama berjam-jam sampai menghabiskan empat gelas minuman dan tiga macam camilan.Tidak membutuhkan waktu lama sampai Kairo naik ke lantai dua dan menemuiku.Dia memakai celana pendek dan hoodie hitam, meskipun casual dan hanya mengenakan sendal jepit, tetapi tetap terlihat rapi dan classy.“Kok di sini?” tanya Kairo membuka obrolan.“Iya, kebetulan aja deket kosan.” Aku berbohong.Kairo mengangguk, dia menarik kursi tinggi di samping kiriku dan duduk dengan tubuh sedikit menghadap ke arahku.“Udah lama di sini?”“Nggak, baru aja dateng.” Aku berbohong lagi.“Kok gue nggak liat?”“Ya kan, lo duduknya di outdoor sana, sedangkan gue masuk, pesen, langsung naik ke lantai dua.”Tubuh Kairo melengkung ke kanan, seolah sedang menengok bekas gelas dan piring di meja belakangku.Sudah kubilang kan, meja yang kutempati ini meja panjang berhimpit dengan dinding yang membentuk siku, jadi, ketika aku menghadap ke arah Kairo, otomatis meja di sisi dinding lainnya itu ada di belakangku.“Bener ya kata orang, cewek cantik itu nggak jago bohong.”Aku memejamkan mataku. Jelas, Kairo ini cowok dewasa yang sulit dibohongi oleh hal-hal kecil. Apalagi pelakunya seorang Nayesha yang sekali bohong saja langsung ketahuan.“No comment,” putusku malu.
“Kok nggak bilang kalau di sini?”“Mau bilang gimana, orang nomor aja nggak punya.”“Oh, sekarang udah boleh tukeran nomor ya?”Aku mengerjapkan mata berkali-kali. Kenapa setiap aku bersama Kairo, aku mulai hilang kendali? Seolah, otak, ucapan, dan tindakanku sulit tersinkronisasi.“Ngaco. Belum boleh ya.”“Belum, berarti ada kemungkinan iya?”“Tergantung sikap lo.”“Bentar lagi?”“Iya. Eh—”“Udah boleh, kan? Sini HP-nya.”Kairo mengambil ponselku, membuka kunci dengan menghadapkan layar ke wajahku, kemudian mengetikkan nomor di sana dan menelepon nomor tersebut.“Kata siapa boleh?” Aku merebut ponselku kembali.“Kan udah ketemu tiga kali tanpa disengaja.”“Tapi yang ini disengaja.”“Kita kan nggak janjian.”“Tapi kemarin lo bilang mau ke sini.”“Berarti lo ke sini gara-gara gue?”“Huh?”“Lo ke sini karena mau ketemu sama gue?”Sial, aku keceplosan. Aku pun memilih tidak menjawab pertanyaan Kairo, sepertinya dia juga sudah tahu jawabannya, tidak perlu kuperjelas lagi.Kairo berdiri. “Yuk turun.”“Mau ke mana?”“Gue gitarin sama gue kenalin ke temen-temen.”[.]Ini adalah part terakhir Cerita Always Trying My Best yang bisa kamu baca di sini. Untuk versi lengkapnya, mari bertemu di bukunya.
Always Trying My Best
Someone Special Is Called Crush
What If #KairoNayesha Met in 2021
Cerita di Universe lain tentang Kairo Nayesha
Terbit 27 April 2026
Saran urutan baca
ATMB Vol. 1 - SSICC - ATMB Vol. 2
ATMB Vol. 1 - ATMB Vol. 2 -SSICC
Pertanyaan yang sering ditanyakan
? Kalau langsung baca ATMB Vol. 2 tanpa baca ATMB Vol. 1, gimana?
- Langsung lompat ke ATMB Vol. 2 kurang disarankan ya, lebih baik baca ATMB Vol. 1 dulu biar nanti nggak bingung karena alur lanjutan.? Kalau langsung baca SSICC aja tanpa baca ATMB, bisa?
- Bisa, tapi...
- Kalau udah baca ATMB Vol. 1 dulu, mungkin nanti pas baca SSICC feel-nya jadi lebih kerasa.
Acc.: @devitnask
Kategori literasi (buku, novel, promosi AU, dll.)
| Service | Rates |
|---|---|
| Repost Feed to Story | 25K-50K |
| Story Keep 1 Day | 50K-300K |
| Story Keep 1 Month | 300K-600K |
| Reels Keep 7 Day | 750K-950K |
| Service | Rates |
|---|---|
| Story Keep 1 Day | 25K-50K |
| Reels Keep 1 Month | 150K-300K |
Ketentuan Return
1. Buku Rusak
2. Halaman Hilang
3. Cetakan Tidak Jelas
4. Cacat
5. Dan lain sebagainyaCara Return
1. Isi Google Form di bawah
2. Hubungi Admin untuk konfirmasi pengisian Form
- (Infokan ingin return dan sebutkan nama)
3. Tunggu sampai Admin konfirmasi ulang melalui WA.
/FAQ